portalbontang.com, Yogyakarta – Respons cepat ditunjukkan oleh Muhammadiyah dalam menanggapi bencana hidrometeorologi yang melanda Pulau Andalas.
Melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), organisasi ini kembali memberangkatkan puluhan relawan kemanusiaan untuk memperkuat penanganan darurat banjir di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Mengutip Siaran Pers MDMC PP Muhammadiyah, Jumat (5/12/2025), penguatan respons ini ditandai dengan pelepasan tim relawan terlatih dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan PWM Jawa Tengah.
Wakil Sekretaris MDMC PP Muhammadiyah, Budi Santoso, menegaskan bahwa seluruh pergerakan relawan di wilayah Sumatera ini merupakan bagian dari ikhtiar kolektif persyarikatan dalam menghadirkan layanan kemanusiaan yang profesional, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Tim DIY Fokus di Gayo Lues
PWM DIY secara resmi melepas 29 personel relawan untuk misi Penanganan Darurat Bencana (PDB) di Aceh. Tim ini akan bertugas selama 30 hari penuh, mulai 5 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, dengan fokus penempatan di Kabupaten Gayo Lues.
Komposisi tim DIY sangat lengkap, terdiri dari:
5 personel tim kesehatan (dari RS Muhammadiyah se-DIY).
10 personel tim logistik.
10 personel tim psikososial.
2 personel data dan informasi.
2 personel manajemen posko.
Para relawan ini dibekali peralatan pendukung, mulai dari obat-obatan, perlengkapan kelistrikan, hingga kebutuhan kesekretariatan untuk membuka enam jenis layanan posko di lokasi bencana.
Jawa Tengah Kirim Tim SAR dan Medis
Sementara itu, gelombang bantuan juga datang dari Jawa Tengah. Sebanyak 28 relawan diberangkatkan dalam dua gelombang (darat dan udara) menuju Sumatera Utara.
Tim yang dikoordinasikan oleh MDMC PWM Jawa Tengah ini membawa spesifikasi keahlian khusus, meliputi Emergency Medical Team (EMT), Tim SAR (Search and Rescue), logistik, hingga manajemen posko.
Keberangkatan mereka dilepas langsung oleh jajaran pimpinan PWM Jateng, termasuk Wakil Ketua PWM Jateng, Masrukhi.
Dalam operasi ini, MDMC menerapkan strategi pendirian pos pelayanan berbasis tempat pengungsian di tingkat desa atau kecamatan. Seluruh pos ditargetkan beroperasi penuh pada pertengahan Desember 2025.
MDMC juga memperkuat sistem respons dengan asesmen berkelanjutan berbasis data pilah, pelaporan situasi harian, hingga pelibatan sumber daya lokal seperti kampus dan organisasi otonom (Ortom).
Seluruh kebutuhan operasional dan logistik akan dikoordinasikan secara berkala bersama Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu).
Langkah ini menjadi bukti komitmen Muhammadiyah untuk terus mendampingi para penyintas bencana, tidak hanya di fase darurat, tetapi hingga fase pemulihan. ***