Portalbontang.com, Bontang – Setiap nama menyimpan cerita, begitu pula dengan Kota Bontang.
Di balik sebutannya yang singkat, tersimpan sebuah hikayat legendaris tentang keberanian, keterbukaan, dan spirit persatuan yang telah menjadi fondasi kota ini sejak ratusan tahun lalu.
Kisah ini, seperti yang disadur dari buku “BONTANG DALAM HIKAYAT” karya Drs. H.M. Nasir Makkaraka yang dimuat dalam situs resmi PPID Setda Bontang, berawal dari perjalanan seorang kerabat Sultan Kutai bernama Aji Pao.
Dengan tekad kuat, ia bersama para pengikut setianya berkelana mencari wilayah baru yang makmur.
Perjalanan membawa rombongan Aji Pao menemukan sebuah aliran sungai yang subur, yang kini dikenal sebagai Sungai Bontang.
Konon, daerah sekitarnya dijaga oleh tiga makhluk halus bergelar “Sang”. Setelah mendapat restu dari ketiganya, Aji Pao mulai membuka lahan untuk pertanian dan permukiman.
Seiring berjalannya waktu, permukiman yang tekun dibangun oleh Suku Kutai ini berkembang menjadi sebuah pusat pasar yang ramai.
Keramaian inilah yang menjadi magnet bagi para pendatang dari berbagai penjuru nusantara. Suku-suku seperti Bajao, Bugis, Mandar, Jawa, hingga Banjar berdatangan untuk berdagang dan menetap.
Terjadilah perpaduan budaya melalui perkawinan antar-suku yang melahirkan harmoni dan bahkan bahasa baru yang khas, yakni “Melayu Bontang.”
Melihat masyarakatnya yang semakin beragam namun hidup rukun berdampingan, Aji Pao tergerak untuk memberikan nama pada wilayah tersebut. Ia menamakannya “Bontang,” sebuah nama yang sarat makna filosofis.
Nama ini berasal dari dua kata: “Bon” atau bond yang berarti sebuah perkumpulan atau gabungan, dan “Tang” yang merupakan akronim dari para pendatang.
Dengan demikian, “Bontang” secara harfiah berarti “Gabungan Para Pendatang.”
Dari sebuah kampung kecil pada 1952, Bontang terus bertransformasi seiring masuknya industri raksasa seperti PT Badak LNG dan PT Pupuk Kaltim.
Puncaknya, pada 12 Oktober 1999, status Bontang ditingkatkan menjadi daerah otonom atau Kota Bontang melalui UU No. 47 Tahun 1999.
Hingga hari ini, spirit “Bon-Tang” itu tetap hidup. Kota Bontang terus menjadi rumah yang nyaman bagi masyarakat dari berbagai suku, ras, dan agama, membuktikan bahwa DNA persatuan dalam keberagaman telah tertanam sejak kota ini bahkan belum bernama.
Selamat Ulang Tahun ke-26, Kota Bontang. ***