PORTAL BONTANG – Dua remaja di Korea Utara telah dieksekusi mati oleh regu tembak karena menonton dan menjual film drama Korea (drakor) dari negara tetangga Korea Selatan (Korsel), pada Oktober lalu.

Berdasarkan dari Daily Mail, Selasa 6 Desember 2022 yang dikutip PortalBontang.com dari situs Prambors FM, remaja tersebut diperkirakan berusia antara 16 dan 17 tahun ditembak di lapangan terbang, kota Hyesan, Korea Utara, perbatasan dengan China.

Mirisnya, aksi ini diperlihatkan oleh penduduk setempat. Remaja Korea Utara yang dieksekusi ini ketahuan mencoba menjual thumb drive yang berisi konten film dan drama Korea Selatan hasil selundupan di pasar lokal.

Disebutkan bahwa sumber yang melihat eksekusi itu, mengatakan kepada Radio Free Asia, satu remaja lainnya mati karena membunuh ibu tirinya. Sumber menyebut bahwa kejahatan itu sama jahatnya (dengan menyebarkan film Korea Selatan).

Baca Juga:   Jokowi Akui Sulit Pertemukan Rusia-Ukraina, Misi Perdamaian RI Gagal?

“Penduduk Hyesan berkumpul berkelompok di landasan,” ujar salah seorang.

“Pihak berwenang menempatkan siswa remaja di depan umum, menghukum mati mereka, dan menembak mereka dengan segera,” tambahnya.

Sumber tersebut menuturkan pula, warga yang menonton kejadian itu ketakutan.

“Mereka (pihak berwenang) mengatakan ‘mereka yang menonton atau mendistribusikan film dan drama Korea Selatan, dan mereka yang mengganggu ketertiban sosial dengan membunuh orang lain, tidak akan diampuni dan akan dihukum maksimum hukuman mati,” terang salah satu sumber penduduk Hyesan, mengutip laman CNN Indonesia.

Media asing, terutama Barat, dilarang keras di Korea Utara. Menurut pemerintah mereka, konten berbau hal luar bisa mencuci otak penduduknya untuk mendukung rezim yang berkuasa.

Baca Juga:   Imbas Inflasi, Harga Menu Sarapan di New York Ikut Naik

Kim Jong-un memandang Korea Selatan sebagai negara boneka Amerika dan peka terhadap media apapun yang melintasi perbatasan.

Dalam kasus remaja di atas yang menjadi korban, eksekusi semacam itu jarang terjadi di Korea Utara tapi tidak pernah terdengar.

Dilansir dari laman Daily Mail menyebut, pemerintah Korea Utara biasanya hanya menakut-nakuti warganya saja agar patuh pada peraturan.

Memang, warga yang ditemukan menonton film asing akan dikirimkan ke pusat kerja disipliner. Pelanggaran kedua, akan dikirim ke kamp pemasyarakatan selama lima tahun bersama orang tua mereka.

Hal ini sebagai hukuman bagi orang tua yang gagal mendisiplinkan anak-anak mereka.Namun, jika mereka ketahuan mendistribusikan atau menjual film atau drakor, akan menghadapi hukuman mati. ***