Portalbontang.com, Sidoarjo – Di tengah duka mendalam atas tragedi ambruknya musala tiga lantai di Pondok Pesantren atau Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo, terselip kisah-kisah luar biasa tentang keajaiban, keteguhan iman, dan perjuangan para santri yang lolos dari maut.
Insiden yang terjadi pada Senin, 29 September 2025, ini telah merenggut 14 korban jiwa. Namun, dari 104 korban yang selamat, terungkap cerita-cerita dramatis yang menunjukkan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati.
Berikut adalah rangkuman momen-momen paling menyentuh dari para penyintas tragedi Ponpes Al Khoziny, yang disarikan dari berbagai sumber media dan keterangan resmi di lokasi.
1. Amputasi Darurat di Bawah Reruntuhan
Salah satu momen paling heroik adalah penyelamatan Nur Ahmad. Demi mengeluarkan tubuhnya yang terhimpit beton, tim medis harus mengambil keputusan berat: melakukan amputasi darurat di lokasi.
dr. Aaron Franklyn, salah satu nakes yang bertugas, bahkan mengaku siap mempertaruhkan nyawanya.
“Pikiran saya, saya sudah siap mati sama pasien kalau bangunan itu runtuh. Karena itu sangat berbahaya, salah gerak sedikit ambruk,” ujar dr. Aaron kepada awak media, Jumat (3/10/2025). Tindakan berisiko tinggi ini berhasil menyelamatkan nyawa Nur Ahmad.
2. Bertahan 3 Hari Tanpa Makan dan Minum
Syaiful Rosi Abdillah (13), korban terakhir yang dievakuasi dalam keadaan hidup, menunjukkan ketahanan luar biasa.
Ia terjebak selama tiga hari tanpa asupan makanan dan minuman. Selama di bawah puing, ia tak henti membaca selawat dan istighfar.
“Nggak lama nambah ada yang jatuh lagi. Beton semua, nggak bisa dorong. Kami minta tolong bareng-bareng, tapi nggak kedengaran,” tutur Rosi dari ruang perawatan RSUD Sidoarjo, Kamis (2/10/2025).
Kakinya yang remuk terpaksa diamputasi, namun semangat hidupnya tetap menyala.
3. Tetap Salat Meski Terhimpit Beton
Kisah Syahlendra Haical (13) menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa. Terjebak selama dua hari dengan pinggang terhimpit beton, ia tetap menunaikan salat dalam posisi berbaring. Ia bahkan sempat mengajak temannya di sebelahnya untuk salat bersama.
Temannya masih menyahut saat salat Isya. Namun, saat waktu Subuh tiba, temannya tak lagi bersuara. Haical menyadari sahabatnya telah berpulang dalam posisi sujud.
“Semuanya sakit,” lirih Haical saat pertama kali ditemukan tim SAR.
4. Mengira Semua Hanya Mimpi Buruk
Al Fatih Cakra Buana (14) mengalami kejadian sureal. Selama tiga hari terjebak, ia merasa seperti tertidur pulas dan bermimpi.
Ia baru menyadari pondok pesantrennya telah hancur lebur saat tim evakuasi berhasil mengeluarkannya.
“Seperti tertidur pulas, lalu mimpi minum pakai selang. Rasanya nyata banget. Seperti jalan-jalan di tempat gelap,” ujar Fatih.
Ia selamat karena tubuhnya tertutup tumpukan pasir dan kepalanya terlindung seng saat reruntuhan terjadi.
Hingga Sabtu (4/10/2025), Kepala Kantor Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, menyatakan total korban Ponpes Al Khoziny mencapai 118 orang, dengan rincian 14 meninggal dunia dan 104 selamat. Proses pencarian kini telah dihentikan. ***