PORTAL BONTANG – Aneurisma Aorta, penyakit pembuluh darah yang sering dijuluki “pembunuh diam-diam”, menjadi ancaman serius bagi kesehatan.
Pasalnya, penyakit ini kerap kali tak menunjukkan gejala yang jelas dan baru terdeteksi ketika kondisinya sudah parah, bahkan berakibat fatal.
Konsultan Intervensi Kardiovaskular di Heartology Hospital Jakarta, dr. Suko Adiarto Sp.JP(K), PhD, menjelaskan bahwa Aneurisma Aorta adalah pelebaran atau pembengkakan pada pembuluh darah Aorta, yang merupakan pembuluh darah utama dan terbesar dalam sistem peredaran darah.
Baca Juga: Pemkot Bontang Sabet Opini WTP dari BPK RI 10 Kali Berturut-Turut
Aorta bertugas mengalirkan darah dari jantung ke seluruh organ vital di tubuh.
“Jika pembengkakan dinding Aorta ini terus terjadi, lama-kelamaan pembuluh darah bisa pecah dan menyebabkan perdarahan internal yang berakibat fatal,” jelas dr. Suko dalam diskusi media tentang “Penanganan Penyakit Aorta” di Heartology Hospital Jakarta, dilansir Portalbontang.com dari RRI.
Parahnya, Aneurisma Aorta dapat terjadi tanpa gejala sama sekali.
Kalaupun ada gejala, seperti nyeri dada, nyeri punggung, atau sesak napas, seringkali terkesan samar dan mudah disalahartikan sebagai penyakit lain.
Baca Juga: Rekomendasi Smartphone Terbaik 2024: Performa Tangguh untuk Kebutuhan Anda!
Oleh karena itu, dr. Suko menyarankan masyarakat untuk lebih waspada dan melakukan pemeriksaan USG atau CT Scan jika mendapati gejala-gejala tersebut.
Faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terkena Aneurisma Aorta adalah usia di atas 50 tahun, riwayat penyakit hipertensi, diabetes, dan penyakit paru, serta memiliki kebiasaan merokok.
Penanganan Aneurisma Aorta
Baca Juga: Rahasia Menjaga Smartphone Tetap Awet dan Prima
Pada kasus Aneurisma Aorta yang masih berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala, dr. Suko menyarankan untuk melakukan pemeriksaan rutin dan minum obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah dan denyut jantung.
Namun, jika pembengkakannya sudah cukup besar dan berpotensi membahayakan, tindakan operasi menjadi pilihan utama.
Saat ini, kemajuan teknologi medis memungkinkan dilakukannya operasi minim sayatan (minimal invasive) dengan metode TEVAR (Thoracic Endovascular Aortic Repair) dan EVAR (Endovascular Aneurysm Repair).
“Kedua metode ini tidak memerlukan operasi bedah terbuka (open heart), melainkan dengan memasang stent graft ke dalam pembuluh darah aorta melalui sayatan kecil di pangkal paha atau perut,” jelas dr. Suko.
Baca Juga: Cara Menghilangkan Watermark CapCut dengan Mudah, Tanpa Aplikasi Tambahan!
Stent graft terbuat dari jaring logam berlapis yang akan terbuka penuh di bawah sinar-X dan berfungsi untuk memperkuat aorta agar tetap terbuka dan memperbaiki dinding pembuluh darah yang membentuk kantung aneurisma.
Pentingnya Pencegahan
Meskipun teknologi medis telah berkembang pesat, dr. Suko tetap menekankan pentingnya upaya pencegahan dan deteksi dini untuk menghindari penyakit Aneurisma Aorta.
Baca Juga: Peluang Indonesia Lolos ke Olimpiade 2024, Masih Ada Harapan!
Pencegahan dapat dilakukan dengan:
- Rutin berolahraga
- Menjaga tekanan darah tetap normal
- Mengonsumsi makanan sehat rendah lemak dan kolesterol
- Menghentikan kebiasaan merokok
Dengan menerapkan gaya hidup sehat dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, risiko terkena Aneurisma Aorta dapat diminimalisir. ***
***
Penulis: M Zulfikar A | Editor: M Zulfikar A