Memetik Buah Konservasi Mangrove: Lingkungan Lestari, Keluarga Berdaya

Kisah Rada, anggota Kelompok Telok Bangko yang menemukan penghidupan dari konservasi mangrove.

M
Memetik Buah Konservasi Mangrove: Lingkungan Lestari, Keluarga Berdaya

Portalbontang.com – Di bawah terik matahari pesisir Bontang, jemari keriput itu bergerak lincah, memeriksa lembar demi lembar daun hijau nan mungil. Bukan satu, dua, atau tiga helai, tetapi ribuan calon kehidupan yang ia teliti dengan saksama. Inilah dunia Rada, seorang perempuan tangguh berusia kepala enam, anggota Kelompok Telok Bangko yang menemukan dayanya di antara rimbunnya hutan bakau.

Semangatnya tak lekang oleh usia. Sejak pertama kali menjejakkan kaki di Kota Taman pada 1986, hidupnya telah bertaut dengan ekosistem mangrove. Kini, ia adalah seorang ahli tanpa gelar. Dengan lancar, nenek lima cucu ini mampu mengisahkan setiap proses, mulai dari memilih benih, menyemai, menanam, hingga merawat pohon-pohon yang menjadi benteng pesisir itu.

“Butuh tiga sampai empat bulan agar bibit mangrove siap tanam. Yang ini baru jalan tiga bulan,” jelasnya sambil menunjuk lebih dari dua ribu bibit bakau hitam (Rhizopora mucronata) yang berjejer rapi di hadapannya.

Dari tangan terampilnya, perempuan kelahiran Mamuju ini pernah melahirkan kehidupan dalam skala masif. Ia berkisah, satu kali pesanan bisa mencapai 25 ribu bibit mangrove. Hasilnya tak main-main. Dari jerih payahnya merawat tunas-tunas itu, ia bisa mengantongi hingga Rp17 juta.

Penghasilan itu mungkin tidak datang setiap bulan, tetapi menjadi penopang utama yang menghidupi keluarganya. Lebih dari sekadar cukup untuk makan sehari-hari, uang dari bibit mangrove itu telah menyekolahkan, bahkan menikahkan anak-anaknya.

“Sejak awal di Bontang, saya tidak pernah sewa rumah. Meski kecil, saya usahakan punya sendiri. Sekarang, Alhamdulillah, punya rumah ukuran 7×30 meter. Anak-anak juga kumpul di sini bersama keluarga mereka,” ujar Rada, yang suaminya seorang nelayan.

Kisah Rada adalah buah manis dari pohon perjuangan yang ditanam puluhan tahun lalu oleh Hadi Wiyoto, Ketua Kelompok Telok Bangko. Pria kelahiran Mandar, 57 tahun silam ini, adalah arsitek di balik hijaunya Telok Bangko hari ini.

Keresahannya dimulai pada 1997. Saat itu, ia yang tinggal di pesisir Loktuan merasa waswas setiap kali air pasang atau angin kencang menerjang. Kawasan Telok Bangko di hadapannya hanyalah lahan kosong yang rentan. “Saat itu, di sini belum ada apa-apanya,” kenang Hadi.

Visinya untuk menciptakan sabuk hijau pelindung mulai bersemi. Perjuangannya mencari pemilik lahan akhirnya membuahkan hasil pada 2009. Lahan seluas 6 hektare itu ditawarkan kepadanya dengan harga fantastis kala itu, Rp2 miliar. Dengan negosiasi alot, Hadi akhirnya berhasil membeli lahan itu. “Setelah terbeli, tahun 2010 saya baru mulai menanam mangrove,” katanya.

Perjalanannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Bibit-bibit awal ia cari dari kawasan mangrove lain. Namun, tantangan terbesar justru datang dari manusia. “Yang pertama adalah sampah. Kalau sudah tersangkut di bibit, pasti mati. Kedua, baling-baling kapal nelayan yang sering memutus batang anakan mangrove,” ucapnya.

Tantangan itu mendorongnya untuk tak henti menyosialisasikan pentingnya menjaga mangrove. Terlebih, mangrove diketahui sebagai penyumbang oksigen terbesar, dan menyedot karbon dioksida dengan skala masif. “Di akar-akar mangrove itulah tempat berlindungnya ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang sebelum mereka besar. Ini rumah bagi mereka, dan keberadaan mangrove ini juga penting untuk anak cucu kita,” jelasnya.

Perjuangan panjang Hadi akhirnya menarik perhatian. Pada 2020, Pupuk Kaltim yang sedang mencari lahan pembibitan melirik potensi Telok Bangko. Alih-alih menyewakan, Hadi justru meminjamkan lahannya secara cuma-cuma, demi satu tujuan: konservasi.

Sejak saat itu, kolaborasi pun terjalin. Pupuk Kaltim hadir memberikan pendampingan dan dukungan intensif. Jembatan kayu ulin, lintasan joging, aula, hingga berbagai sarana penunjang dibangun. Pelatihan dan pembinaan tak pernah putus, dengan nilai bantuan bisa mencapai Rp1 miliar per tahun. Kini, lebih dari satu juta pohon mangrove telah tumbuh kokoh di Telok Bangko, menjadi saksi bisu sebuah sinergi.

Asisstant Vice President TJSL Pupuk Kaltim, Uchin Mahazaki, menjelaskan bahwa dukungan ini bukan hanya soal lingkungan. “Ini tentang bagaimana masyarakat bisa mandiri dengan memanfaatkan alam tanpa merusaknya,” ujarnya.

Program ini mendorong diversifikasi produk. Buah mangrove yang dulu terabaikan, kini diolah menjadi amplang, sirup, hingga dodol yang bernilai ekonomis. Telok Bangko bertransformasi menjadi pusat eco-edu-wisata. “Tadi kita lihat ada anak-anak sekolah belajar membuat batik ecoprint dari mangrove. Telok Bangko telah menjadi pusat pembelajaran,” tambah Uchin.

Kini, Telok Bangko tak hanya menjadi benteng hijau bagi pesisir Bontang. Ia adalah bukti nyata bahwa konservasi bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan. Dari keresahan seorang Hadi Wiyoto dan ketekunan seorang Rada, lahir sebuah ekosistem yang tak hanya melestarikan alam, tetapi juga melahirkan keluarga-keluarga yang berdaya, memetik harapan dari setiap akar mangrove yang mereka tanam. ***

info

Peringatan Plagiarisme

Dilarang mengutip, menyalin, atau memperbanyak isi berita maupun foto dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari Redaksi. Pelanggaran terhadap hak cipta dapat dikenakan sanksi sesuai UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta dengan ancaman pidana penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda hingga Rp4 miliar.

Editor: M Zulfikar A

Menu