PORTAL BONTANG – Gempa Cianjur berkekuatan 5,6 Magnitudo meluluhlantakkan sebagian besar rumah dan bangunan warga. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyarankan pemerintah dan warga untuk direlokasi.

Opsi relokasi pasca gempa Cianjur itu bukan tanpa alasan. BMKG menyebut pilihan ini perlu dipertimbangkan karena peristiwa alam itu rawan terulang kembali.

Saran relokasi warga terdampak gempa Cianjur ini sudah disampaikan langsung BMKG kepada pemerintah daerah dan masyarakat.

“Opsi relokasi harus dipertimbangkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat. Berdasarkan analisa yang dilakukan BMKG, gempa di Cianjur merupakan gempa yang berulang setiap 20 tahunan dan kemungkinan dapat terjadi kembali,” ungkap Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati sebagaimana dikutip PortalBontang.com dari InfoPublik, Jumat 25 November 2022.

Baca Juga:   Hujan Lebat dan Petir Diperkirakan Melanda 7 Daerah di Kaltim hingga Selasa

Sementara, lanjut Dwikorita menyampaikan alasannya, topografi di wilayah lereng dan perbukitan tersebut tidak stabil dengan kondisi tanah yang rapuh atau lunak, dan sering jenuh air akibat curah hujan yang cukup tinggi.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa saat ini BMKG tengah melakukan survei untuk mengidentifikasi wilayah mana saja yang aman terhadap guncangan gempa.

“BMKG juga akan memadukan data yang dimiliki dengan PVMBG terkait wilayah rawan gempa dan rawan longsor guna mendukung proses rehabilitasi dan rekonstruksi usai gempa bumi,” ucap Dwikorita.

Tak lupa, ia juga mengingatkan agar saat proses rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan nanti supaya menggunakan struktur bangunan tahan gempa.

Menurut Dwikorita, banyaknya korban meninggal dan signifikannya kerusakan yang terjadi pada saat gempa tektonik bermagnitudo 5,6 selain akibat gempa dangkal juga akibat struktur bangunan di wilayah terdampak tidak memenuhi standar tahan gempa.

Baca Juga:   Sesar Baribis Tepat di Bawah Jakarta, Ada Potensi Gempa di Masa Depan

“Mayoritas bangunan yang terdampak karena dibangun tanpa mengindahkan struktur aman gempa yang menggunakan besi tulangan dengan semen standar. Akibatnya, bangunan tersebut tidak mampu menahan guncangan gempa,” paparnya.

Perlu dipahami, lanjut Dwikorita, bahwa banyaknya korban jiwa dan luka-luka dalam gempa bumi di Cianjur bukan diakibatkan guncangan gempa, melainkan karena tertimpa bangunan yang tidak sesuai dengan struktur tahan gempa bumi, khususnya untuk permukiman warga di daerah lereng-lereng dan perbukitan. ***