PORTAL BONTANG – Beberapa ibu mengidap baby blues syndrome. Gangguan psikis ini bisa berbentuk kekerasan kepada anak bahkan hingga pembunuhan. Seperti apa pencegahannya?

Koordinator Tim Psikolog UPTD PPA Kota Samarinda Ayunda Rahmadani menjelaskan, baby blues ini ialah sindrom pasca melahirkan yang kerap melanda ibu-ibu yang melahirkan pertama kali. Prevalensi ibu yang mengalami sindrom ini ialah ibu berusia muda.

“Ini secara biologis. Banyak hormon-hormon yang keluar pasca melahirkan. ketika dia hamil, ada perubahan peningkatan hormon yang membuat emosi dia menjadi tidak karuan,” ungkap Ayunda menjelaskan baby blues syndrome.

Emosi yang kerap terjadi ialah ibu tersebut merasakan kesedihan yang mendalam, menilai dirinya tidak mampu merawat anak bayinya, hingga merasa tidak bisa menjadi seorang ibu.

Baca Juga:   Kaltim PEKA Gender Dipresentasikan dalam Diklat PKN II Angkatan 14

“Ketika baby blues syndrome itu menyerang, si ibu kan merasa tidak berdaya. Sehingga dia meminta bantuan dari pihak eksternal,” lanjutnya.

Guna mencegah hal tersebut, Ayunda menekankan peran suami. Di mana, dukungan suami merupakan kunci dalam menghindarkan istrinya mengalami gejala tersebut.

“Istri mengharapkan bantuan dari suami. Karena suami itulah yang paling dekat. Itu menentukan apakah seorang ibu itu bisa bangkit atau pulih dari baby blues syndrome,” tegas Ayunda.

Suami bisa membantu istrinya dalam hal membantu pekerjaan rumah tangga, mencukupi gizi dan nutrisi ibu, dan memberikan waktu istrinya untuk beristirahat. ***