PORTAL BONTANG – Tingkat persaingan bisnis di berbagai penjuru kota masih tergolong sangat tinggi termasuk bisnis dalam bidang kuliner. Ribuan manusia berlomba-lomba untuk mendirikan berbagai bisnis kuliner dan bisnis restoran meskipun hal tersebut menghasilkan banyak kompetitor.

Alasan yang membuat keduanya bersifat kompetitif adalah adanya ketertarikan pelanggan dan kenyamanan atas pelayanan yang disajikan daripada tempat makan yang lain.

Seharusnya pemilik bisnis kuliner pada mayoritasnya berasumsi terkait penyajian makanan yang berkualitas baik tidaklah cukup untuk mencapai keuntungan dari sebuah bisnis kuliner. Dikarenakan kualitas produk ataupun pelayanan yang baik merupakan suatu hal yang mendasar pada bisnis kuliner.

Dalam pemasaran, bisnis kuliner menggunakan teknik perencanaan kapasitas jangka pendek untuk memproduksi bahan baku yang dimiliki.

Perencanaan kapasitas produksi merupakan peningkatan sumber daya perusahaan dalam mengambil keputusan strategi dalam menentukan berapa jumlah permintaan yang harus dipenuhi dengan menggunakan fasilitas produksi yang ada.

Kapasitas memiliki dua makna yang pertama, jika dipandang dari segi bisnis, kapasitas bisa berupa output yang diperoleh oleh sebuah sistem selama periode waktu tertentu.

Yang kedua, jika dipandang dari segi industri jasa, kapasitas bisa berupa jumlah konsumen yang dapat ditangani selama beberapa waktu. Strategi perencanaan kapasitas terbagi menjadi tiga jenis, yaitu kapasitas jangka pendek, jangka menengah, jangka panjang.

Baca Juga:   Dampak Indonesia Rawan Gempa Terhadap Bisnis UMKM

Kapasitas jangka pendek merupakan suatu strategi dalam mengembangkan kapasitas yang bersifat agresif dan bertujuan untuk mengantisipasi pertumbuhan permintaan pada masa yang akan datang (dalam kurun waktu kurang dari 3 bulan).

Setiap bisnis kuliner tidak beroperasi penuh pada 7 hari dalam seminggu ataupun 24 jam/ hari. Apabila diasumsikan bisnis kuliner tersebut beroperasi penuh setiap 8 jam/ hari dan bisa dikatakan 5 hari/ minggu, maka dapat disimpulkan bahwa kapasitas normal jam kerja bisnis kuliner tersebut sebanyak 40 jam/ minggu.

Akan tetapi hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai kapasitas maksimal yang dimiliki, karena setiap bisnis kuliner memiliki peluang untuk beroperasi melebihi kapasitas norma, sehingga kapasitas output maksimum dapat melebihi dari 40 jam kerja.

Untuk tenaga kerja terbagi menjadi dua, yaitu tenaga kerja langsung dan tenaga kerja tidak langsung. Untuk giliran tenaga kerja langsung termasuk seluruh karyawan yang termasuk dalam proses produksi (contohnya koki pada bisnis kuliner, barista, dan sebagainya).

Adapun tenaga kerja tidak langsung, yaitu manager outlet, data analyst, brand manager dan lain lain (yang tidak terlibat pada proses produksi dan termasuk pada biaya operasional perusahaan).

Untuk biaya variabel (jumlahnya bervariasi) bergantung pada aktivitas produksi perusahaan dan mengalami kenaikan maupun penurunan juga bergantung pada produksi atau volume penjualan perusahaan.

Hal tersebut mencakup komisi penjualan dengan persentase 50% merchant 50% penyedia aplikasi, biaya distribusi dari produksi bahan baku, dan adanya upah lembur tenaga kerja selama 1 hari sesuai dengan masing-masing usaha kuliner.

Baca Juga:   7.500 Mahasiswa Baru UMM Bentuk Beragam Flashmob dan Flashlight dalam Pesmaba 2022

Salah satu strategi kapasitas jangka pendek ialah penawaran beberapa promo bisnis kuliner yang sesuai dengan hari selebrasi, setiap pergantian bulan, ataupun dapat bersifat musiman seperti 1 kali promo dalam 3 bulan. Hal ini sengaja dilakukan agar konsumen tertarik untuk membelinya dengan harga yang berbanding jauh dari harga normal jualnya.

Adapun lima strategi kapasitas jangka pendek yang dapat diterapkan pada setiap bisnis kuliner, yaitu:

  1. Meningkatnya jumlah sumber daya dengan pemanfaatan jam kerja lembur, menambahkan kelompok kerja, adanya kesempatan kerja salah satunya part time, subkontrak dan perjanjian kerja.
  2. Memperbarui adanya penggunaan sumber daya dengan mengatur kelompok kerja dan menetapkan rencana.
  3. Pembaruan produk untuk menentukan standar produk, mengubah jasa operasi, dan pengawasan kualitas.
  4. Memperbarui permintaan dengan melakukan perubahan terhadap harga dan perubahan promosi.
  5. Tidak memenuhi permintaan.

***

*) Joya Thasya Ikrimah Mardjun adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Disclaimer: Tulisan artikel ini dan properti (gambar, video, ilustrasi, dll) di dalamnya sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan sikap dari redaksi PortalBontang.com, kecuali ditentukan lain di kemudian hari.